SUWAYDA (Arrahmah.id) -- Bentrokan hebat antara milisi Druze degan klan Arab Badui meletus selama akhir pekan di Provinsi Suwayda, Suriah selatan,. Tak kurang hampir 100 orang tewas dan didugakan kekerasan atas terus meningkat di wilayah mayoritas Druze tersebut.
Dilansir Al Monitor (14/7/2025), kekerasan meletus setelah seorang pedagang Druze dirampok dan diculik di sebuah pos pemeriksaan Arab Badui pada hari Jumat. Kejadian yang terjadi di jalan yang menhubungkan Suwayda - Damaskus itu memicu serangkaian penculikan antara kedua kelompok.
Ketegangan kemudian meningkat menjadi bentrokan bersenjata antara kelompok-kelompok dari minoritas Druze dan klan Arab Badui di lingkungan al-Maqous di kota Suwayda pada hari Ahad (13/7), menurut Kementerian Dalam Negeri Suriah.
Media lokal melaporkan bahwa suku Arab Badui bersenjata juga melancarkan serangan terhadap desa-desa Druze di pinggiran barat dan utara kota.
Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan bahwa tentara telah dikerahkan di Suwayda bersama pasukan keamanan untuk membubarkan bentrokan dengan cepat dan tegas dan meminta semua pihak di wilayah tersebut untuk menahan diri.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) pada Senin (14/7) malam waktu setempat menyatakan bahwa jumlah korban tewas telah mencapai setidaknya 99 orang. SOHR yang berbasis di Inggris tersebut menyatakan 60 orang tewas berasal dari Suwayda, bersama dengan 18 anggota suku Arab Badui, 14 tentara Suriah, dan tujuh orang tak dikenal.
Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan dalam pernyataan terpisah pada hari Senin bahwa mereka telah mengoordinasikan pengerahan pasukan keamanan dan tentara ke wilayah tersebut dalam upaya untuk menghentikan bentrokan.
Dalam pernyataannya, Kementerian Dalam Negeri menyatakan keprihatinan yang mendalam atas eskalasi tersebut dan mengakui bahwa kekosongan kelembagaan di Suwayda telah berkontribusi pada situasi saat ini.
"Eskalasi berbahaya ini terjadi di tengah absennya lembaga resmi terkait, yang memperburuk kekacauan dan memburuknya keamanan, serta membuat masyarakat setempat tidak mampu mengatasi krisis meskipun telah berulang kali diimbau untuk tetap tenang. Hal ini mengakibatkan meningkatnya jumlah korban jiwa dan menimbulkan ancaman langsung terhadap perdamaian sipil," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa tentara telah dikerahkan di Suwayda bersama pasukan keamanan untuk "dengan cepat dan tegas membubarkan bentrokan," dan mengimbau semua pihak di wilayah tersebut untuk bekerja sama dengan pihak berwenang dan menahan diri.
Namun Otoritas keagamaan tertinggi Suriah untuk komunitas Druze, Kepemimpinan Spiritual Muslim Druze Unitarian, menolak intervensi pasukan keamanan Suriah di Suwayda.
"Mereka (let: tentara Suriah) justru membombardir warga kami di desa-desa perbatasan dan mendukung geng-geng takfiri dengan senjata berat dan drone mereka," kata pimpinan mereka dalam sebuah pernyataan.
Serupa dengan itu, Men of Dignity, sebuah faksi Druze yang beroperasi terutama di Suwayda, mengutuk bentrokan tersebut, memperingatkan bahwa bentrokan tersebut mengancam perdamaian sipil dan membuka jalan bagi kekacauan.
Sementara menyerukan de-eskalasi, faksi tersebut menganggap pemerintah Suriah bertanggung jawab utama atas situasi saat ini karena kegagalannya menjaga keamanan, kebisuannya dalam menghadapi pelanggaran yang berulang, dan toleransinya terhadap faksi-faksi afiliasinya yang ikut campur dan berpihak pada satu kelompok di atas kelompok lain.
Kaum Druze adalah salah satu dari beberapa kelompok minoritas di Suriah yang mengikuti cabang Syiah. Mereka sebagian besar terkonsentrasi di wilayah selatan, termasuk provinsi Suwayda.
Ada sekitar 700.000 Druze di Suriah. Meskipun terpinggirkan di bawah rezim Assad, Druze tetap relatif netral selama perang saudara di Suriah dan mengatur urusan lokal mereka sendiri.
Pada bulan April, bentrokan sektarian meletus antara awarga Arab melawan warga Druze di kota Jaramana, yang terletak di pedesaan Damaskus. Bentrokan yang menyebabkan puluhan orang tewas itu dipicu oleh rekaman audio seorang pria Druze yang menghina Nabi Muhammad SAW.
Bentrokan berlanjut hingga awal Mei, menyebar ke kota-kota mayoritas Druze lainnya di dekatnya, termasuk Sahnaya, Ashrafiyat Sahnaya, dan Suwayda. (hanoum/arrahmah.id)
