JAKARTA (Arrahmah.id) - Tokoh Islam Indonesia, Din Syamsuddin, menyoroti penutupan Masjid Al-Aqsa oleh otoritas Israel selama dua pekan pertama bulan suci Ramadan. Ia mempertanyakan sikap pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai belum menyampaikan pernyataan tegas terkait peristiwa tersebut.
Menurut Din Syamsuddin, tindakan penutupan Masjid Al-Aqsha oleh tentara Israel menyebabkan umat Islam tidak dapat menjalankan ibadah sebagaimana mestinya di salah satu tempat suci paling penting bagi umat Islam.
Ia menilai peristiwa tersebut sebagai tragedi keagamaan yang menyedihkan sekaligus pelanggaran terhadap hak asasi manusia.
Din menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha bukan hanya milik umat Islam di Palestina, tetapi juga menjadi bagian dari warisan spiritual umat Islam di seluruh dunia.
Selain dikenal sebagai salah satu situs suci dalam Islam, Masjid Al-Aqsha juga memiliki posisi historis sebagai kiblat pertama umat Islam sebelum arah kiblat ditetapkan ke Ka’bah di Makkah.
Dalam pernyataannya, Din Syamsuddin juga menyinggung peran lembaga internasional yang ia sebut sebagai Board of Peace yang menurutnya seharusnya berfungsi menjaga perdamaian dunia.
Ia mendorong agar forum tersebut digunakan untuk menegur pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas ketegangan di kawasan tersebut, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ia bahkan mempertanyakan relevansi lembaga tersebut jika tidak mampu menghentikan tindakan yang dinilai sebagai bentuk ketidakadilan dan penindasan terhadap rakyat Palestina.
Din Syamsuddin menyampaikan pandangan itu dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Pengarah Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) serta Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam.
Ia mengajak umat Islam dan masyarakat internasional untuk terus menyuarakan pembelaan terhadap Palestina serta menuntut dibukanya kembali akses ibadah di Masjid Al-Aqsha.
(ameera/arrahmah.id)
