TEHERAN (Arrahmah.id) - Memasuki pekan keempat perang, dunia menghadapi risiko ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengeluarkan peringatan darurat pada Senin (23/3/2026), menyatakan bahwa krisis Timur Tengah saat ini lebih buruk daripada gabungan dua krisis minyak tahun 1970-an. Birol menegaskan bahwa ekonomi global kini berada dalam bahaya besar.
Laporan mendalam dari Washington Post mengungkapkan alasan di balik keras kepalanya Teheran meski telah dihantam 15.000 target militer oleh AS dan 'Israel'. Iran dilaporkan sengaja memilih eskalasi daripada mundur, dengan keyakinan penuh pada kartu as mereka: kendali atas Selat Hormuz.
Iran bertaruh bahwa mereka bisa meningkatkan penderitaan ekonomi global lebih cepat daripada kemampuan administrasi Trump memulihkannya dengan kekuatan militer. Harga bensin di AS yang melonjak dari $20 ke $25 per galon menjadi bukti nyata strategi ini mulai bekerja.
Sebagai jalur yang melayani 20% pasokan minyak dunia, penutupan sebagian selat ini telah mengacaukan pasar. Teheran merasa kekuatan ini mampu mengimbangi dominasi militer AS-'Israel'.
Pembunuhan tokoh-tokoh kunci seperti Ali Larijani dan juru bicara IRGC Ali Mohammad Naeini justru membuat posisi Iran semakin radikal. Teheran kini menutup pintu dialog sebelum ada jaminan "non-agresi" dan kompensasi penuh dari Washington.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa tahun baru ini akan menjadi momen untuk memberikan pukulan telak kepada musuh-musuh Iran.
Meskipun terlihat garang di luar, para pakar intelijen mencatat adanya kekhawatiran mendalam di internal kepemimpinan Iran. Perang jangka panjang berisiko memicu gelombang protes baru di dalam negeri akibat anjloknya standar hidup masyarakat.
Pakar intelijen Reuel Marc Gerecht menilai momen paling kritis bagi rezim Iran bukan saat perang berlangsung, melainkan saat serangan berhenti dan rakyat mulai menuntut pertanggungjawaban atas kehancuran yang terjadi.
Serangan masif AS telah menyebabkan kerusakan infrastruktur yang luas dan jumlah korban sipil yang sangat besar, meningkatkan tekanan psikologis pada rakyat Iran.
Hingga saat ini, mediasi dari Qatar dan Oman masih menemui jalan buntu. Iran bersikeras tidak akan ada gencatan senjata prematur seperti "Perang 12 Hari" di masa lalu. Seorang diplomat Iran bahkan memperingatkan bahwa AS sedang masuk ke dalam "lubang lumpur" yang tidak memiliki jalan keluar selain melalui jalur diplomasi yang setara. (zarahamala/arrahmah.id)
