KUWAIT CITY (Arrahmah.id) - Memasuki hari ke-24 perang besar antara AS-'Israel' melawan Iran, ketegangan di wilayah Teluk mencapai titik didih baru pada Senin dini hari (23/3/2026). Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan keberhasilan sistem pertahanan udara mereka dalam mencegat rentetan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan langsung dari wilayah Iran.
Suara ledakan keras akibat proses intersepsi terdengar di berbagai kota besar, memicu aktivasi sirine bahaya di Kuwait City hingga Manama. Meskipun mayoritas serangan berhasil digagalkan, serpihan rudal dilaporkan menyebabkan kerusakan ringan dan korban luka di beberapa titik pemukiman warga sipil.
Militer Kuwait mengonfirmasi aktivasi sistem pertahanan udara untuk menghalau serangan rudal dan drone. Sirine bahaya meraung di seluruh penjuru kota, sementara warga diminta tetap di dalam ruangan guna menghindari serpihan jatuh. Sebelumnya, 4 dari 7 drone Iran berhasil dihancurkan di ruang udara Kuwait.
Sementara itu, juru bicara Kemenhan Saudi, Luwair Rukan Turki al-Maliki, menyatakan pihaknya menghancurkan drone di wilayah perbatasan Utara dan wilayah Timur. Dalam 24 jam terakhir, Saudi telah mencegat 9 drone dan 3 rudal balistik yang mengarah ke Riyadh, dengan sistem peringatan dini diaktifkan di Al-Kharj.
Adapun pertahanan udara UEA mencegat 4 rudal balistik dan 25 drone Iran. Di wilayah Al-Shawamekh, Abu Dhabi, serpihan rudal yang berhasil ditembak jatuh melukai seorang warga negara India. Otoritas setempat mengimbau warga untuk tidak menyebarkan foto puing-puing atau rumor di media sosial.
Di Manama, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengaktifkan sirine nasional dan meminta warga segera mencari perlindungan di tempat aman. Sejak awal konflik (28 Februari), Bahrain mengeklaim telah menghancurkan total 145 rudal dan 246 drone yang menyasar wilayah kerajaan.
Komando Angkatan Bersenjata Bahrain menegaskan bahwa penargetan objek sipil oleh Iran adalah pelanggaran berat terhadap Piagam PBB dan hukum humaniter internasional.
Serangan masif ke negara-negara Teluk ini merupakan aksi balasan Iran atas gempuran tanpa henti dari AS dan 'Israel' ke daratan Iran yang telah menewaskan ratusan orang, termasuk petinggi keamanan mereka. Negara-negara Teluk yang terkena dampak kini berada dalam status siaga tertinggi, mengingat Iran mulai menyasar fasilitas sipil dan infrastruktur energi sebagai bentuk tekanan terhadap sekutu Amerika di kawasan. (zarahamala/arrahmah.id)
