LEBAK (Arrahmah.id) — Kasus di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, ternyata membuka persoalan lain yang lebih besar: aktivitas tambang pasir yang diduga berada tepat di belakang sekolah tersebut.
Temuan ini pertama kali diungkap oleh seorang pengguna media sosial yang memperlihatkan hasil penelusurannya melalui aplikasi peta digital.
Dari hasil pantauan di maps terlihat sejumlah titik tambang pasir yang cukup luas di kawasan belakang SMAN 1 Cimarga, bahkan disebut berbatasan langsung dengan area hutan.
Kondisi lahan hijau di sekitar sekolah tampak gersang akibat aktivitas tambang yang telah berlangsung lama.
Dari berbagai informasi yang beredar, Kecamatan Cimarga disebut-sebut sebagai salah satu wilayah dengan tambang pasir terbesar di Kabupaten Lebak.
Aktivitas tambang di daerah ini sudah terjadi sejak lama, baik yang legal maupun ilegal. Beberapa perusahaan berbentuk CV dan PT diduga bekerja sama dalam mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Warga sekitar mengaku sudah berulang kali memprotes aktivitas tambang pasir, namun suara mereka jarang terdengar di media. Kondisi jalan di sekitar area tambang kini rusak parah, becek, dan licin akibat truk besar pengangkut pasir yang melintas setiap hari.
“Sudah banyak warga yang jatuh bahkan meninggal karena jalan rusak oleh kendaraan tambang,” ujar salah satu warga yang ikut aksi protes pada Juli 2025 lalu.
Dalam aksi itu, warga menyegel beberapa lokasi tambang dan memasang spanduk bertuliskan “Disegel! Warga sudah muak dengan tambang pasir.”
Warga menuntut Pemkab Lebak dan Pemprov Banten agar turun tangan menutup seluruh tambang pasir di wilayah Cimarga.
Mereka menilai, dibanding manfaat ekonomi, kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar, yaitu jalan rusak, lahan pertanian gagal panen, air sungai tercemar, serta udara penuh debu yang mengganggu pernapasan.
Temuan tambang pasir di belakang sekolah ini membuat netizen ramai berspekulasi terkait kecepatan langkah Gubernur Banten Andra Soni dan Wakil Gubernur Dimyati Natakusumah yang sebelumnya menonaktifkan Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga usai insiden penamparan siswa.
“Oh, pantesan gubernurnya gercep, ternyata ada tambang di balik SMAN 1 Cimarga,” tulis akun @setypran di kolom komentar unggahan Instagram @stuffmap.id, Kamis (16/10/2025).
Langkah penonaktifan kepala sekolah semula dimaksudkan agar suasana belajar di SMAN 1 Cimarga kembali kondusif. Namun, justru kebijakan itu membuat kasus ini semakin ramai dan merembet ke berbagai isu lain, termasuk dugaan keterkaitan dengan tambang pasir di sekitar sekolah.
Meski kepala sekolah akhirnya tidak jadi dinonaktifkan setelah proses mediasi, publik kini mulai menyoroti keberadaan tambang pasir sebagai akar persoalan yang lebih serius.
Kerusakan lingkungan, pencemaran air, hingga ancaman keselamatan warga menjadi isu baru yang kini mencuat ke permukaan. Jika tak segera ditangani, tambang pasir di belakang SMAN 1 Cimarga bisa menjadi bom waktu lingkungan hidup di Kabupaten Lebak.
(ameera/arrahmah.id)
