Memuat...

Menteri 'Israel' Provokasi Jamaah Shalat Jumat Pertama Ramadhan di Al Aqsa

Hanoum
Sabtu, 21 Februari 2026 / 4 Ramadan 1447 06:59
Menteri 'Israel' Provokasi Jamaah Shalat Jumat Pertama Ramadhan di Al Aqsa
Itamar Ben-Gvir menginstruksikan polisi Israel untuk menerapkan tindakan yang lebih ketat di Masjid Al Aqsa terhadap warga Palestina selama Ramadhan. [Foto: X]

YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Situasi di kompleks Masjid Al Aqsa memanas setelah Menteri Keamanan Nasional 'Israel' Itamar Ben-Gvir, memasuki area tersebut pada Jumat (20/2/2026) pertama bulan Ramadan. Kehadiran menteri kontroversial ini mendapat kecaman karena mengeluarkan pernyataan provokatif saat puluhan ribu muslim berkumpul untuk shalat, menurut laporan lokal dan internasional.

Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan Ben-Gvir tiba melalui Gerbang Maroko. Ia didampingi oleh Komisaris Polisi 'Israel', Daniel Levy, dan Komandan Polisi Distrik Yerusalem, Avshalom Peled.

Dilansir Anadolu Agency (20/2/2026), aktivitas Ben-Gvir di lokasi — dikenal sebagai Haram al-Sharif oleh umat Islam dan Temple Mount oleh umat Yahudi — melanggar “status quo” yang telah lama dijaga di situs suci tersebut, menurut pakar dan sejumlah laporan media internasional. Status quo ini bertujuan menjaga hak eksklusif Muslim untuk beribadah di Al Aqsa selama Ramadhan, sementara elemen politik dan agama Yahudi berusaha meningkatkan kehadiran mereka di area tersebut.

Pemerintah Provinsi Yerusalem menyatakan bahwa tindakan menteri tersebut merupakan bagian dari peningkatan eskalasi keamanan selama bulan suci. Sejak pagi hari, pasukan 'Israel' memberlakukan kontrol ketat bagi warga dari Tepi Barat yang menuju Yerusalem.

Berdasarkan laporan saksi mata, puluhan jemaah lanjut usia terpaksa dipulangkan di pos pemeriksaan Qalandia dan Bethlehem. Petugas mengeklaim para jemaah tersebut tidak memiliki izin masuk yang diperlukan. Tak hanya itu, pasukan keamanan dilaporkan sempat menahan empat paramedis serta mengganggu tugas jurnalis di lapangan.

Akses ke kompleks tersebut dibatasi secara drastis oleh otoritas 'Israel', hanya mengizinkan maksimal 10.000 jamaah Palestina dari Tepi Barat yang diduduki untuk hadir dengan izin harian dan pembatasan usia, sebuah langkah yang menurut para pengamat meningkatkan ketegangan di Yerusalem Timur.

Ratusan yang membawa izin tetap ditahan di pos pemeriksaan dan tidak diizinkan masuk, sementara sekitar 80.000 umat Muslim tetap berhasil menunaikan salat Jumat di bawah pengamanan polisi yang diperkuat. (hanoum/arrahmah.id)